TRANSPORTASI DARI BUSWAY, WATERWAY, KE…MYWAY..

Semoga artikel ini ada manfaatnya bagi civil engineers yang bergerak di bidang transportasi, terima kasih.

-admin-
==================

Pemerintah provinsi DKI Jakarta dinilai gagal membangun sistem transportasi publik yang baik bagi warga kotanya. Pola pembangunannya terkesan lebih mengarah kepada pendekatan proyek, tidak terintegrasi dengan baik, akinat lemahnya koordinasi antarpihak terkait.

Tudingan itu muncul dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Menyelamatkan Jakarta dari Kegagalan Sistem Transportasi”, pekan lalu di Jakarta. Tema yang cukup provokatif itu diangkat dalam rangka Seminar Hari Bumi oleh KBR 68H Green Radio, yang menghadirkan pemerhati transportasi dan planolog.

Sehari setelah itu, Deputi Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Soehodo (yang diundang tetapi absen dalam pertemuan tersebut) buru-buru memberi kan sanggahan. Tudingan tersebut dinilainya tidak beralasan karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari hari ke hari terus melakukan perbaikan dan meningkatkan pelayan transportasi publik.

Kita pun bertanya, seperti apa sebenarnya system transportasi publik yang baik? Di mana letak kegagalan atau keberhasilan DKI Jakarta dalam membangun transportasi? Apakah indikatornya? Untuk bisa mendudukan permasalahan dengan baik, kita perlu terlebih dahulu merujuk pemikiran dari para perencana transportasi.

Pada satu dekade terakhir ini, sebagian besar perencana transportasi sepakat untuk beralih dari konsep yang bersandarkan hanya pada menfasilitasi kendaraan bermotor (car mobility) menjadi kemudahan pengguna transportasi untuk mencapai tujuan (people accessibility).

Amerika Serikat, yang memiliki dana khusus bagi jalan, yaitu road fund, yang dikutip dari pajak kendaraan, pajak BBM, dan retribusi yang berhubungan dengan kendaraan bermotor, semula mengalokasikan dana itu hanya untuk membangun jalan. Namun, seiring perubahan paradigma, uang itu dipakai untuk membangun transportasi non jalan seperti transit atau angkutan umum, fasilitas pesepeda, dan bahkan restorasi lingkungan di daerah yang terkena pembangunan jalan.

Perubahan konsepsi pendekatan pembangunan transportasi di AS dikenal dengan gerakan freeway revolt. Dalam bukunya, Transportation for Livable Cities (2000), guru besar transportasi University of Pennsylvania, Vukan Vuchic, menyatakan bahwa lahirnya gerakan tersebut di antaranya dilatarbelakangi oleh dampak emisi dan kemacetan yang semakin parah di perkotaan, serta kekecewaan atas pola pembangunan transportasi yang tidak mengikutsertakan masyarakat perkotaan.

Sebagai akibat gerakan ini, beberapa undang-undang (Act) di AS yang lahir kemudian memandatkan aspek partisipasi masyarakat, analisis dampak lingkungan dan dampak social yang lebih rinci. Gerakan yang sama juga terjadi di beberapa Negara Eropa dan Asia di mana intinya adalah membangun layanan transportasi yang dapat membentuk kota yang humanis.

Kompas sudah sering kali menyuarakan pentingnya merealisasikan tuntutan perbaikan layanan transportasi perkotaan DKI Jakarta. Sistem transportasi yang dikonsepsikan baik (yang sudah berhasil diterapkan di banyak kota besar di dunia) di Jakarta malah berantakan.

Pembangunan jalur khusus bus atau busway transjakarta, yang pada periode awal (koridor I-II) sudah baik, belakangan ini berantakan; begitu juga di hampir semua koridor yang sudah beroperasi. Sedangkan angkutan sungai atau waterway tenggelam dan angkutan berbasis rel atau rail-way, yakni monorel, tidak kunjung jelas wujudnya.

Tentang busway misalnya. DKI sudah membangun 10 koridor, tetapi dua koridor terakhir (koridor IX-X) sudah sekitar 1,5 tahun mangkrak.

Dari delapan koridor busway yang sudah operasional, belum ada satu pun koridor yang benar-benar utuh seperti yang dikonsepkan, yang bisa membuat warga yakin bahwa inilah sistem busway yang baik seperti di Bogota, Kolombia. Tidak ada satu pun koridor yang dapat dijadikan model sebuah sistem busway yang baik.

Angkutan sungai sudah gagal total. Monorel semakin tidak jelas dengan tiang-tiangnya meranggas di pusat kota. Tidak salah juga jika publik menduga pekerjaan ini berorientasi proyek. Akhirnya warga memilih caranya sendiri bertransportasi, yang oleh Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono di istilahkan “myway”.

Dari busway, waterway, railway, kini myway. Artinya, masing-masing warga mencari jalan sendiri-sendiri meski melanggar aturan.

(kompas, 2 mei 09)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mei 2009
S S R K J S M
« Jan   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

twitter_ku

Kumpulan Arsip-ku

%d blogger menyukai ini: