ANTARA AKU, GAME, ATAU TEMAN-TEMANMU? !?!?!???? @#$%^&*) (+= ..?

Hari ini begitu lenggang, sunyi, dan begitu tenang, aku (dah tau kan aku siapa?)  mengurung diri dikamar, dari tadi aku rebahan, tapi entah mengapa aku tak bisa tidur, lama lama bosan juga rasanya kalau begini begini terus. Kulihat jam dindingku yang bergambar cewek maen basket sudah menunjukkan pukul 03.38 pm, alias jam stengah empat sore. Dah telat banget nih klo mo bobo siang, biasanya jam 2 sehabis pulang dari kampus aku tidur siang.

“Duuuuhh……Bosan nih kalo begini terus!”

Tiba tiba saja aku teringat pada dirinya, teringat pada “kekasihku tersayang” (sebut saja Budi, nama samaran, Red) nan rumahnya tak jauh disana. Sudah dua hari lamanya kami tiada bersua, serasa rindu sekali hatiku ini, hati nan memendam rindu pada kasihku. Wahai kasih permata hati, penerang jiwa ;p.

“Dia lagi ngapain yah??”, tanyaku dalam hati. Langsung kuambil hape ku yang tadi kuletakkan di samping bantal yang sedang aku rebahi. Kutekan angka 2 yang sudah ku atur agar menjadi nomor speed dialing untuk nomor “pacarku tersayang” itu di hapeku agar aku lebih mudah dan cepat disaat aku ingin menghubunginya. Nada sambung telah berbunyi, tinggal menunggu dia mengangkatnya. Aku agak heran, lumayan lama aku menunggu tapi belum diangkat juga, biasanya sebelum 15 detik tersambung dia sudah menjawab telponku.

“Halo…” tiba tiba ia menjawab telponku.

“Halo….Sayang….”

“Iya, knapa?”

“Nggak ada apa-apa, aku cuma lagi bete aja, makanya aku nelpon kamu.”

“Oo…..”

Sayup sayup kudengar bunyi bunyi yang kurang jelas, bunyi yang berulang ulang. Tak tok tik tok, sepertinya itu bunyi tuts keyboard komputer.

“Sayang dah makan belum?”

Satu detik, dua detik, tiga, empat, lima, ia tak menyahutku.

“Sayang?”

“Hah iyah…Apa?”

“Kamu dah makan belum?” Tanyaku sekali lagi.

“……….”

“Koq ga dijawab?”

“Oiya, udah tadi.”

“Koq kamu ga bobo siang? Biasanya klo jam segini kan kamu pasti bobo siang?

“Lagi males.”

“Males kenapa? Biasanya kan kamu malah nyari nyari dan nyempatin waktu buat bobo siang.”

“Lagi males aja!”

“Kamu lagi ngapain sich? Koq kayaknya kamu juga lagi malas ngomong ya?”

“……….” Dia  kembali tak menyahutku.

“Sayaaang………”

“Ermm…”

Aku mngeryitkan dahiku sejenak dan bertanya tanya dalam hati, lagi ngapain sich dia???

“Apa?”

“Hah?” sahutnya dan membuatku semakin tambah heran. Dia kenapa sich?

“kamu kenaaapaaaaaaaa? Emangnya kamu lagi ngapin sich?” tanyaku gemas.

“Lagi ngetik ya?? Tanyaku lagi sebelum ia sempat menjawab pertanyaanku yang sebelumnya.

“Bukan ngetik.”

“Trus, lagi ngapain donk?’

“Maen game,” sahutnya enteng.

“Pantes!”

Aku kini diam, ia pun juga diam. Sepertinya sudah lebih dari 5 detik kami terdiam. Suasananya menjadi hening, dan ia pun tak bergeming, tetap pada kebisuannya.

“Sayang koq diam lagi sich?”

“Kan lagi maen game”.

“Oiya yah…Eh, tadi jam brapa kamu pulang dari kampus?”

“………..”

“Halloooooouw……..”

“………..”

“Koq ga di jawab??”

“Lagi maen game.”

“Pulang dari kampusnya jam brapa sayang?”

“……..”

“Aduuuuuuh……. Aku dicuekkin lagi.”

“Nanya apa tadi?”

“Pulang dari kampusnya jam brapaaaaa?” tanyaku dengan gemas bercampur kesal.

“Jam 3.”

Gitu aja?!!! Jawabannya koq serba singkat sich? Ga ada basa basinya sama sekali, atau nanya apa kek sama aku, nanya udah makan belum, lagi ngapain, atau gimana tadi dikampusnya…. Bilang gitu aja koq susah banget sich??

Kami kembali hening, ia membisu, pura-pura membisu atau beneran bisu ya? Koq kayanya dia ga ada kangen-kengennya sama sekali sich sama aku?

“Koq diam?” Kini dia yang malah bertanya padaku.

“Habis dari tadi kamu nggak ada ngajak aku ngomong.”

“Emmmmmmm……”

“Emmm doank?”

“Trus maunya apa donk?”

“Apa kek! Nyanyi kek!”

“Emmm… udah dulu ya! Aku lagi maen geme nih, susah klo pake 1 tangan aja.”

“Yaaaaaa!!! Bentar lagi gih, aku kan masih pengen ngomomg sama kamu, aku bete gara-gara aku ga bisa bobo siang.”

“Aduuuuh, gimana ya? Aku lagi mau maen game nih,kamu mandi dulu sana gih! Udah dulu yah! Dadaaaaaaaah……”

“Bentar lagi donk!” pintaku.

“Udah dulu yah, yah yah yah….”

Aku diam sejenak.

“Ya udah deh.”

“Nah, gitu donk! Daaaaaaaahh!” katanya dngan semangat.

Uh…dasar egois!!! Dadahnya aja yang semangat, ditanyain malah linglung! Mana ga ada tanda-tanda kangennya lagi, mana ga ada kata-kata mesra atau apa lah kata kata yang bisa menunjukkan kalo ia perhatian sama aku, seperti yang biasa ia lakukan. Benciiiiiiiiiiiiiiii…………..

@#$%^&*

Sudah jam 7 malam. Aku begitu merindukannya, aku begitu berharap agar ia menelponku, atau datang kesini menemuiu. Tapi, setelah ditunggu-tunggu jutaan tahun, koq “kekasihku tercinta” itu tidak menelponku ya?? Lupa, lagi ga ada pulsa atau masih maen game sich? Tapi kayanya ga mungkin kalo dia maen game, yang pastinya telinganya bakalan dilewati oleh kereta api panjang yang membawa sederet omelan ibunya yang….hmm, tau ndiri lah!! Apa dia lagi sibuk? Sibuk apa ya? Sibuk belajar? Uh, mana mungkiiiiiiiiiiiin…………… Atau dia lagi kehabisan pulsa? Atau dia lagi lupa sama aku?? HuHuHu….kejam sekaleeee….. Atau dia malah lagi menuju kesini untuk menemuiku?? Daripada penasaran, langsung saja kita cari tau, ini dia jawabannya :

“Halo,” jawabnya disana.

“Iya halo…” sahutku.

“Apa sayang?” Ia selalu bertanya seperti itu jika aku menelponnya. Dan aku selalu menjawab :

“Ga kenapa kenapa, Cuma mau nelpon aja.”

Aku mendengar suara angin, sepertinya ia lagi dalam perjalanan dengan mengendarai motornya. Yess!!!!!! Dia pasti mau kasini!

“Oo…dah makan belum?” ia menanyakan pertanyaan rutin yang selalu ia tanyakan setiap pagi, siang, ataupun malam, yaaa…pas jadwal makan lah. Dan sekali lagi, aku selalu menjawabseperti ini :

“Udah, tadi sore. Kamu sendiri?”

Pasti “belom”. Yakin deh!

“Belom!” Seperti yang sudah kuduga, jawabanku sungguh sangat amat tepat sekali (pemborosan kata-kata!).

“Sayang lai ngapain nih?” tanyanya.

“Lagi nelpon kamu, kamu ndiri? Lagi mau kemana?” tanyaku dengan lembut.

Aku begitu berharap, mudah-mudahan jawaban yang dilontarkannya adalah : “Ya ketempat kamu donk sayang, aku kan kangen sama kamu….” J

Ternyata apa??

“Mo ke rumah Andi (nama diplesetkan, Red).”

Aku terkejut, aku merasa disambar petir (majas personifikasi). Hilanglah harapanku untuk bertemu dengannya.

“Apaaaaa??? Ke rumah Andi, ngapain?” nada bicaraku mulai meninggi.

“Iya, kerumah Andi. Nggak ngapa-ngapain, cuma mo ktemu sama dia aja.

Whaaaaaattttt..…..???

“Knapa ga kesini aja sich?” tanyaku dengan nada judes. Aku berharap, ia membelok dan mendatangiku.

“Ini aku dah hampir nyampe ke rumah Andi, tinggal 3 rumah lagi nyampe deh.”

Kini putuslah harapanku. Aku begitu kecewa padanya, ia ternyata lebih mementingkan temannya dari pada aku, bahkan mungkin sama sekali ia tak ingin melihatku hari ini, hiks…hiks… Tega sekaliiiiiii………..L

“Ini aku dah nyampe”.

“Ooo….” Aku tak dapat berkata-kata lagi. Rasanya aku sudah sangat ingin menangis.

“Emm…Sayang, dah dulu ya..!! Aku mau ktemu sama Andi dulu ya… Dadaaaaah….”

“Da….dah,” sahutku terbata-bata seakan tak rela dan mata berkaca-kaca. Aku benar benar sedih dan kecewa. Sudah beberapa kali ia membuatku seperti ini. Dan ini yang kesekian kalinya ia meNOMORDUAkan aku diantara 2 hal yang sudah diceritakan diatas.

Aku mulai berfikir, apakah aku yang terlalu egois karena ingin selalu ia bersamaku, aku yang selalu ingin dia ada disaat aku sedang  menginginkannya disampingku, setidaknya ia selalu ada disaat aku ingin bicara dengannya lewat telpon. Tapi kenapa sich, dia selalu nggak ngerti?? Entahlah……… Cuma dia yang tahu jawabannya.

@#$%^&*

Hari ini, meskipun masih agak kesal padanya, aku masih berharap ia menelponku pagi ini seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi sekitar jam 7’an. Dan ternyata benar, ia menelponku.

“Halo.”

“Halo.”

“Pagi sayang.” Katanya. “Dah sarapan belum?”, seperti biasa, itulah yang selalu ditanyakannya.

“Belum, kamu sendiri?” jawabku tenang, padahal aku masih terbayang-bayang akan kekesalanku padanya sore kemarin dan malam tadi.

“Belum juga tapi ntar pulangnya aku mau beli bubur ayam. Mau??”

“Dasar kekek, doyan banget makan bubur, hahahaa….” Aku tertawa lepas seolah telah melupakan kekesalanku padanya.

“Alaah…… Bilang aja sebenarnya nenek juga diam diam pengen dianterin bubur kan??”

“Iih..sapa juga yang pengen bubur?”

Kami bercanda seperti biasa, mungkin sebenarnya aku juga harus melupakan masalah kekesalanku padanya. Toh, dia juga ga tau kalo aku lagi BT abis sama dia. Tapi, ya udahlah… Life must go on….

@#$%^&*

Siang ini, kucoba menelponnya setelah memperkirakan jam tidur siangnnya. Ini baru jam 12, mungkin ia belum tidur.

“Halo sayang.”

“Iya,” sahutnya dari sana.

“Sayang lagi ngapain nih?”

Langsung saja dia menjawab,

“Maen game!”

Ya ampyuuuuun…. Maen geme lagi?! Aku sebenarnya benar benar sangat kecewa mendengar kata-kata itu, tapi kudu pegimane lagi (jarnya orang Betawi), emang udah jadi hobby yang mendarah daging baginya hingga sulit untuk dihilangkan, mungkin jika suatu hari  hilang komputernya itu diserbu virus, mungkin aku lah orang yang paling berbahagia karena sudah berhasil menyingkirkan salah satu pesaingku.

“Yaaaaaaaaa…….. Nanti aja deh maen gamenya, aku lagi kangen banget sama kamu sayang.”

“Duuuuuh….Lagi seru nih.”

“Ya udah deh, nanti aja lagi kita telpon-telponannya.”

“Dah dulu yaa…. Dadaaaah…”

“Dadaaaaah….”

Dengan sangat berat hati aku mengatakan itu. Aku menunggunya untuk menutup telpon sambil berharap agar ia tak jadi menutup telponnya dan memanggilku. Aku memang selalu begitu. Jika diantara kami, siapapun yang menelpon, pasti dialah yang kupersilahkan untuk menutupnya, pertama karena aku selalu merasa berat untuk mengakhirinya, kedua karena aku begitu menghormatinya, sehingga dia lah yang akan selalu aku dahulukan. Tapi mungkin dia tak sadar atas apa yang aku lakukan padanya. Aku juga ingin dia memahamiku, mengerti apa yang aku inginkan. Tapi biarlah, yang penting aku terus bisa berada disampingnya. Mungkin suatu hari nanti juga dia akan menyadarinya sendiri.

Tuut…tuut…tut……

Bunyi yang paling kubenci, tak terasa air mataku menetes, membasahi pipiku. Aku merasa kecewa sekali, benar benar sangat amat kecewa. Kekecewaanku padanya mulai menumpuk, entah sampai kapan aku menabungnya di hatiku. Air mataku terus menetes dan kubiarkan begitu saja, itulah caraku untuk mengeluarkan emosiku. Tak peduli orang bilang aku cengeng atau apa, tapi aku juga perempuan, aku tak sekuat yang mereka bayangkan karena juga manusia yang rapuh. Menangislah satu-satunya cara yang efektif untuk meredakan emosiku, seiring berhentinya air mataku mengalir, maka hatiku akan trasa plong. Tapi biarpun aku suka menangis, aku tak ingin menampakkan air mataku pada kalian wahai pembaca sekalian yang budiman.

Aku berpikir, kenapa sih dia seperti ini padaku, apakah tanpa sadar aku pernah melakukan hal serupa padanya? Apakah aku pernah lebih mementingkan kepentingan pribadiku dibanding dia. Kenapa sih dia nggak bisa ngerti aku, kenapa dia selalu membuatku merasa kecewa karenanya.

Tangisku masih berlanjut, dan kini tiba-tiba aku teringat akan satu nama, nama seseorang yang dulu pernah kulupakan namun takkan pernah hilang, nama yang dulu sering kucari-cari, nama yang masih membekas dihatiku, nama yang pernah menggali lubang bagitu dalammya di hatiku sampai aku masih tak mampu menutupnya hingga saat ini. Hingga saat aku sudah menemukan orang yang benar-benar aku cintai, orang yang tak ingin ku khianati cintanya karena aku tahu,ia sungguh sungguh mencintaiku.

Tapi entah mengapa, setiap aku besedih, nama itu selalu  muncul dan membukatku semakin bersedih. Entah bagaimana caranya agar aku melupakannya, sudah 3 tahun ini kucoba. Tapi nama itu selalu muncul disaat aku sendiri, disaat hatiku kosong dan hampa. Ya benar! Mungkin itu lah caranya, jangan biarkan hatiku menjadi kosong dan hampa, baru aku bisa melupakan “Dia yang Tak Boleh Di Sebut namanya”. Hehee…….

@#$%^&*

Sudah lumayan lama  berlalunya sejak tabungan BETE-ku kutambah saldonya. Sore ini, kutelpon dia. Dia menjawab telponku seperti biasa. Ia bercerita bahwa dia dan teman-temannya akan menginap di luar kota sana. Ia meminta izinku, dan akupun mengizinkannya. Dan sampai saat ini, kami sedang baik baik saja.

@#$%^&*

Malam ini, aku sendirian di rumah. Sepiiiiiiiii buanget…….. Enaknya ngapain yah? Ku nyalakan televisi. Ga ngaruh, rasanya tetap sepi sekali dunia ini. Suddenly, aku langsung ingat padanya, sang “kekasihku tersayang”. Langsung kugapai hapeku dan meng-smsnya. Kutunggu-tunggu beberapa menit tak ada balasan darinya.

Telpon ga? Telpon Ga? Telpon apa Enggak?? Aku ragu. Kini aku baru ingat, dia kan mau jalan. Pasti jam segini dia lagi dijalan. Rasanya ga salah kan kalau aku menelponnya.

Kuambil lagi telponku dan menelponnya. Ingat pembaca, tadi sore kami masih baik baik saja.

“Halo,” katanya entah dari dan di mana sekarang ia berada. Tedengar suara angin, benar tebakanku, ia memang lagi ada dijalan.

“Sayang lagi di jalan ya??” tanyaku dengan lembut. Ingat pembaca! Sampai saat ini hubungan kami masih baik-baik saja.

“He-eh, lagi sama si Jun (nama asli, abisnya ga bisa di plesetin, Red).”

Belum banyak aku bicara, kini ia malah bicara dengan Jun, temennya. Aku diam saja dan sambil sambil mendengarkan pembicaraannya dengan Jun. Awalnya kubiarkan saja ia ngomong sepuasnya sama Jun, tapi lama lama aku BETE juga.

“Halo….”

“Iya sayang….”

Seusai kujawab ia malah kembali ngomong sama Jun. aku bersabar menunggunya selesai ngomong.

“Halo sayang…”

“Iyyaaaa…. Aku denger koq.”

Mendengar sahutanku ia malah kembali ngomong sama Jun. aku heran, emangnya dari tadi dia bolak balik hola halo sama aku buat apaan sich? Bikin aku tambah kesal aja. Kayanya tabungan BeTe ku sama dia bakalan berbunga nih. Dan dia yang akan mendapat bunganya.

“Sayang, dah dulu ya, ga enak sama Jun. Kita smsn aja yah.”

Aku menjadi geram sekali padanya. Dasar egois!

“Ga mau, tar malah ga dibalas lagi, yang tadi aja ga dibalas.”

“Di balas koq, dijamin! Beneran deh!”

“Ga mau!”

“Ya ya yaaaaaa…..”

“Pokoknya ga mau!”

“Mau donk! Kalo kamu ga mau aku gimana? Aku kan ga enak sama Jun.”

Aku diam saja……

Kini ia malah kembali ngomong sama Jun. Benar-benar MENYEBALKAAAAN!!!

“Halo…” katanya lagi. Aku diam saja.

“Halo..?” ia kembali menyapa.

“Halo…. Sayang? Kenapa diam aja?”

“Udah selesai ngomomgnya sama Jun?”

“Loh, kenapa?”

Aku diam saja.

“Sayang ngambek ya?”

Aku kembali diam. Rasanya kekesalanku sudah  memuncak. Ni orang kenapa sich? Pura pura bego ato bego beneran? Dah tau orang lagi ngambek malah nanya lagi. Sungguh menyebalkaaaaaaaannn!!!!!! Dia sepertinya sedang tak peduli padaku. Padahal aku lagi perlu teman untuk mengurangi kesepianku. Dia bahkan tak menanyakan hal yang selalu diagendakannya kala ia menelponku, apalagi menanyakan sedang sama siapa aku dirumah. Padahal aku sering menanyakan hal itu padanya. Suruh aja dia mengingatnya!

“Sayaaaaaang……”

Aku masih diam seribu bahasa. Ia juga harus tahu bagaimana rasanya dicuekkin! Kaya judul lagu, Biar Kau Tahu Rasa! Huh!!

“Tu kaaan, ga di jawab, sayang ngambek ya??”

“Iya.”

“Haa ha haaaa….”

Ketawa? Dia malah ketawa? Disaat seperti ini dia ketawa. Ni orang kenapa sich nyebelin banget. Mendengar ketawanya aku menjadi semakin benci, benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……. Huh! Dia sedang mempermainkanku atau apa sich? Jahat!

Karena kuacuhkan, tawanya mulai mereda, tapi saat tawanya berhenti, ia malah kembali berbicara dengan Jun. Dongkol sekali aku rasanya.

“Ya udah, kalo nggak mau ngomong sama aku nelponnya ya diputusin aja.” Kataku dengan nada ngomel.

“Duuuh, sayang marah. Sayang tau kan kebiasaan aku gimana? Aku klo lagi ketemu sama teman-temanku kan slalu kaya gini. Kita kan udah lama pacaran, dan kamu sudah tahu akan hal ini, masa kamu lupa sich?”

“Ya udah, ngapain kamu ngomong sama aku, toh kamu lagi sama teman-teman kamu kan? Tutup aja telponnya!!!!”

Aku sudah benar-benar tak tahan. Aku mulai menitikkan air mata, ini tandanya aku sudah tak dapat mengendalikan emosiku lagi.

“Iya deeh, dah dulu ya sayang, tapi kamu marah nggak?”

“Iya aku marah!!” kataku sambil berusaha menyembunyikan isak tangisku.

“Tu kan marah, sayang jangan gitu donk.”

“Ngapain masih ngomong, tutup telponnya gih!” Meskipun saat ini aku benar benar sedang marah besar, tapi aku tetap tidak mau menutup telponnya lebih dahulu. Air mataku semakin mengucur deras. Aku tak ingin dia tahu kalau aku sedang menagis.

“Oke, aku tutup, tapi kamu jangan marah donk, tolong ngertiin aku.”

“Matiin aja hapenya!” desakku karena aku sudah ta sabar untuk menikmati tangisku.

“Tapi sayang stop dulu ya marahnya!”

“Iya iya, cepat matiin…”, aku sudah benar-benar tak sabar, tangisku sudah mau meledak.

“Oke, daaaaah…..”

“Dah.” Hape ku langsung kulempar dan tak kupedulikan lagi. Aku menagis, sejadinya. Mencurahkan air mataku dan mengeluarkan emosiku. Aku kembali diNOMORDUAkan! Tegaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!! Awas aja dia, kalo ketemu nanti kucincang kau!

Blesss….Kurasakan sesuatu aku merasakan itu lagi, memoriku kembali dilewati “Dia Yang Tak Boleh Di Sebut Namanya”, kenapa ia datang lagi disaat seperti ini. Tuhan, tolong buang namanya jauh-jauh, aku tak ingin mengingatnya. Bikin tambah sengsara aja! Sana deh jauh jauh! Aku ga mau ingat kamu lagi. Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!

Tak sampai 2 menit hapeku kedatangan sms. Pasti dia! Kuambil hapeku yang tadi kulempar. Kubaca sms itu. Ternyata benar, itu adalah sms darinya, dari orang yang Super Duper ngeBeTein saat ini. Hapenya kuletakkan begitu saja. Aku tak ingin membaca isi sms itu. Biarin aja deh.. Ga bakalan aku balas, biar dia tau kalo aku sedang marah besar!

Sudah cukup lama aku menangis, aku ingin berhenti, namun airmataku masih keluar. Pipiku sudah sembab dengan airmata. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7.33 pm, mungkin sebentar lagi akan ada yang pulang. Bagaimanapun aku harus segera menghentikan tangisku. Aku melangkah ke kamar mandi, kucuci mukaku. Kulihat di cermin mataku merah, meskipun tangisku sudah berhenti, hidungku juga agak memerah. Waduuuh, ketahuan banget nih kalo aku habis nangis. Mesti gimana nih??? Ah, biaralah! Paling mereka juga ga tau kalo aku habis nangis. Dirumah ini kan ga ada yang tahu kalau aku hobby mengeluarkan air mata. Paling mereka mikirnya aku habis bersin-bersin.

@#$%^&*

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, ada yang datang, aku bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Mereka juga ga ada yang memperhatikan. Selamaat…!!!

@#$%^&*

Sudah jam 9 lewat  40 menit, aku yang tadi sudah mulai lupa kini kembali teringat padanya. Timbullah rasa kangenku padanya. Ingin rasanya aku tahu sedang apa ia sekarang. Tadi dia sudah makan atau belum? Apa dia sudah tidur sekarang? Apakah ia masih ingat padaku? Atau ia larut tertawa bahagia bersama teman-temannya sementara aku disini memendam rindu dan kesedihan yang mendalam, juga kekesalan padanya. Hatiku jadi campur aduk.

Aku tak tahan, aku merindukannya. Kangeeeeen… ya sudah, aku memutuskan untuk mengesms dia, klo Cuma  mikirin gengsi aku malah akan semakin menderita. Setidaknya aku bisa tau sekarang ia sudah tidur apa belum.

Sms sudah kukirim, namaun dengan gaya bahasa yang berbeda dari biasanya, agari ia tahu mengapa aku sseperti itu.

Tak lama kemudian datang balasan darinya. Dia bilang kalau dia belum tidur. Dia juga bertanya kenapa sms yang tadi tak kubalas sehingga membuatnya jadi bingung. Ya gimana mo di balas, dibaca aja belum. Weeek :p.

Kubalas sms itu, dan sms sms seterusnya. Mau tau isinya apa? Tanya aja ma dia, masih ingat ga dia??

@#$%^&*

Hari ini masih libur, aku bersantai saja dirumah, sambil menulis cerita ini. Kadang aku meneteskan air mataku sambil menulis cerita ini. Makanya tissue pun tak boleh jauh jauh dariku. Namun kadang kadang aku juga tertawa sambil mengingat ingatnya.

Hari mulai agak siang, hapeku berbunyi. Aku tahu itu pasti dia, karena hanya nomor nya yang pakai bunyi itu.

Angkat? Enggak? Angkat? Enggak? Angkat? Angkat aja deh, aku kan kangen sama dia.

“Halo…”

Aku diam saja. Selama beberapa detik ia terus memanggilku. Namun tak kugubris.

“Naa…tu kaaan! Aku dicuekin! Sayang ngomong donk!” pintanya dengan nada memohon.

Aku masih diam.

“Sayang….”

“Iyaa……..” sahutku dengan malas.

“Sayang masih marah ya?”

Aku diam lagi. Entah kenapa aku suka sekali mendiamkannya. Hohoho……

“Sayang jawab donk!”

“Emmmm……”

“Ayolah…Ngomong donk!”

“Emmmmmm……..”

“Cuma emmm doank?”

“Emmmm…”

“Emmmm….” Ia juga jadi ikut-ikutan.

“Emmmm…”

“Emmmm…”

Aku jadi ingin sekali tertawa. Namun kucoba untuk tak tertawa sebisaku.

“Aduuuh…..ngomong donk sayang” nadanya terdengar mulai bingung dan gelisah. Aku tertawa, huahahaha… Tapi dalam hati.

“Iyaaaa… Nih aku ngomong.”

“Gitu donk! Coba dari tadi! Bikin orang bingung aja!”

“Sayang lagi ngapain?”

“Lagi rebahan, malas malasan aja. Kamu ndiri?”

“Lagi nelpon.”

Ya iyalah lagi nelpon! Aku juga tau!

“Sayang masih marah ya?”

“Kayanya masih deh.”

“Yaaa… Jangan gitu donk sayang!”

“Emmm…”

“Naaa……. Kumat lagi deh!”

“Emmm….”

“Sayang ngomong donk!”

“Iya….”

“Sayang dah makan belum?”

“Udah.”

“Makan apa?”

“Tahu.”

“Apa? Makan Tahu doank? Enggak  makan nasi?”

Aku ingin sekali tertawa, tapi berusaha kusembunyikan. Kutelungkupkan mukaku ke bantal, dan tertawa lepas disitu.

“Wah, masa cuma gara-gara ngambek kamu Cuma makan tahu?”

Haahaaahaaaa……. Aku tertawa terbahak. Tak dapat lagi kusembunyikan tawaku.

“Loh? Kok malah ketawa? Berarti aku udah dimaafin donk? Ya kan?”

“Yeee…… Jangan geer dulu, siapa yang udah kasih maaf?”

“Belum? Pelit amat sih sayang?”

“Terserah aku donk!”

“Yaaa….. marahnya kok lama sich? Eh sayang, tar aku mau kemping nih, dijakin ma teman-temanku.

Apaaaaaaaaa……???? Apa aku ga salah dengar. Ya amplop…

“Kalau aku ikut ga papa kan sayang?”

Huwaaaaa…. Malah nanya lagi! Ya jelas ada apa-apanya lah. Belum juga dikasih maaf, dia malah bikin masalah lagi.

“Ya terserah kamu lah!”

“Berarti boleh donk?”

“Terserah, lagian juga kalau aku larang pasti kamu tetep brangkat. Ya kan?” kataku dengan nada marah. Tapi emang lagi beneran marah sich.

“Yaaaa….sayang koq gitu? Boleh yaa? Dah lama aku ga ngumpul ngumpul sama mereka nih. Ya boleh yaaa…?!”

Aku menghela nafas, rasanya aku sudah dicekik oleh emosiku sendiri. Rasanya seperti habis berlari karena dikejar hantu, nafasku jadi susah untuk kuatur.

“Sayang, boleh kan?”

“Humph…”

“Tu kaaaaan… Boleh ya?!”

“Terserah!”

“Tapi kayanya kamu ga ikhlas deh.”

EMBEEEEEEEEEER!

“Ya terserah kamu lah!” sahutku dengan penuh kekesalan.

“Asyiiiiik… Tar jam 6 sore ini kami bragkat kesana. Sayang mau ikut ga?”

“Ga ah, itu kan acaranya kamu, para kaum lelaki. Mana ada ceweknya yang ikut.”

“Ada koq! Mau ikut ga?”

“Ga!”

“Bener?”

“Iya!”

“Ya udah deh. Oiya, tar sore aku bakalan ke tempat kamu sebentar. Sayang, nanti aja lagi ya, aku lagi ada yang mau aku kerjain nih.”

“Ya udah, kerjain aja dulu sana!”

“iya deeeh.. Daaah…”

“Emmh…”

Tuuuut….tuuuut…tuuut….

Aku masuk ke kamar. Mengambil tissue dan hiks hiks hiks….

@#$%^&*

Sekarang sepertinya sudah kurang lama setelah telpon terakhir tadi ditutup, tissue yang sudah basah dengan ingus dan airmataku sudah tertumpuk banyak. Kulihat jam dinding. Ternyata udah jam 3 sore.

Hape ku kembali berbunyi, dengan bunyi khas. Di lagi…

“Halo.”

“Emhhh…”

“Koq langsung kaya gitu sich? Masih marah ya?”

Ya iyalah!

“Sayang ngomong donk!”

“Males!”

“Aduuuuuuuuuuuh…..Koq susah banget sich ngomongnya?”

Aku diam saja.

“Sayang…… Sayang…..”

Dia terus memanggil manggil namaku. Tapi tak kuindahkan. Biarin aje, emang gue pikirin!

“Sayang, ngomong donk! Kalo nggak aku tutup nih”

Tutup aja! Siapa takut weeeek….

“Aduuuuuuuh…… masih nggak ngomong juga? Aku tutup nih…!”

Dia mulai marah. Huahahaa……

“Tutup nih.”

“Tutup aja!” kali ini aku benar benar  bersuara.

“Ya udah, tutup ya… daaaaaah….”

Aku tak peduli, kubiarkan saja. Tapi aku malah nangis lagi. Aduuuuuuh…kenapa sich nangis mulu.

@#$%^&*

Udah jam 5, ia tak datang juga seperti yang ia ajnjikan di telpon tadi. Ya iyalah ga datang, di luar kan lagi ujan deras bangeeeet. Ya pasti lah di ga kesini.

Tapi kalo cuacanya kaya gini apa dia dan teman- temannya jadi berangkat camping? Aduuuh, kalo bisa jangan deh! Kan hujan begini. Yang dirumah aja pasti kedinginan, apalagi yang camping.

Aku jadi ingin menelponnya. Tapi kan aku tadi masih ngambek. Malu donk kalau aku nelpon duluan? Tapiiiii…… gimana nih? Ga mungkin aku ngizinin dia meskipun ia laki-laki.

Ah, biarin. Telpon aja deh!

Kuambil hapeku. Aku masih ragu, tapi sudah tersambung. Ya udah, terusin aja…

“Halo.” Kataku.

“Iya halo.”

Sayup sayup kudengar suara-suara berisik. Sepertinya ia sedang sibik.

“Lagi ngapain?”

“Lagi sibuk nih, tar aja ya nelponnya. Aku bener-bener sibuk nih, daaah yaaa…..”

Yah yah yaaaaaaaaaah…….. Terlanjur, sudah ditututpnya telponnya. Akuuuu…. Nangis lagiiiii…… Lagi dan lagi..

Sekitar 20 menit kemudian, ia menelponku lagi. Sebenarnya aku masih terisak. Tapi kuangkat saja telponnya dan berusaha bersikap seperti biasa.

“Halo”

“Halo..” jawabku dengan air mata yang bercucuran. Waduuuuuh, bakalan bengkak juga ni mata.

“Sayang maaf yaa… yang tadi itu aku bener-bener lagi sibuk. Jangan marah yaa…”

“Ummm…”

“Sayaaaaang…”

“Ummmm..”

“Ya sayang, ngomong donk!”

“Iya, nih aku ngomong.”

“Sayang, hidungnya kanapa? Habis nangis ya”

“Nggak, sapa yang nangis!” tegasku.

“Masa?? Pasti tadi kamu nangis kaaan? Ya kaaaaan??”

“Enggak koq!” Kuseka air mataku dan menghentikan tangis ku.

“Beneeer?”

“Iya…!!!”

“Oce deeeh, percaya koq! Oiya, kayanya ada yang kena tipu deh tadi.”

“Oya? Siapa?” tanyaku dengan nada datar seolah aku sedang tak tertarik untuk mengetahuinya, padahal penasaran juga.

“Kamu! Aku kan tadi Cuma boong aja yang tentang camping itu. Ga tau kenapa, tadi pagi aku malah punya pikiran untuk ngejahilin kamu.”

“Oooo…….” Kataku dengan reaksi yang biasa-biasa saja. Seakan tak terkejut. Padahal…

“Kurang asem!!! Bisa bisanya dia nipu aku sampe sampe tissue ku menumpuk sebanyak itu. DasaaaaaaaaRRRRRR!!!” ujarku dalam hati. Tapi dalam lisan yang sebenarnya aku berkata seperti ini :

“Gitu ya…??!!”

“Aku minta maaf ya sayang, tadi itu aku cuma becanda.”

Becanda?? Enak aja dia bilang begitu sementara aku disini dirundung duka dan nestapa. Huh dasar!!

Kudiamkan dia. Berpuluh puluh kali dia memanggilku, tapi aku hanya menyahut dengan gumaman. Rasakan! Biarin aja kalau dia jadi sebal padaku. Hahahaaaaa!!!

“Sayang ayo laaaaah…. Cintaaaaa……jangan diam aja donk! Aku minta maaf… maafin aku doonk!!

Berpuluh-puluh kali aku mendengarnya mengucapkan itu, sampai telingaku merasa bosan mendengarnya.

“Sayang, kamu denger aku apa nggak sih?”

“Dengar.”

“Tapi koq diam aja sih? Aku domaafin ga?”

“Nggak, udah sana, kamu mandi aja deh!”

“Naaa…aku belum dimaafin.. Maafin donk!”

“Enggak, kamu mandi aja sanaaaa!!”

“Ga mau, kalo ga dimaafin aku ga mau mandi.”

“Iiiih… Ayo mandiiii!!!!

“Enggak mau, sebelum dimaafin!”

@#$%^&*

2 Komentar (+add yours?)

  1. arul
    Jun 05, 2009 @ 06:35:46

    Huahahaha.. funny enough… I know what it’s feel when he said:

    “Tu kaaan, ga di jawab, sayang ngambek ya??”

    “Iya.”

    “Haa ha haaaa….”

    I know why he is laughing… =))

    Balas

  2. xopqqxwdns
    Jun 17, 2009 @ 01:00:52

    dFrZ1H avtznyvltkgu, [url=http://xeacuxoprbpz.com/]xeacuxoprbpz[/url], [link=http://cqizpckspozt.com/]cqizpckspozt[/link], http://urzuqmqkivhr.com/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

twitter_ku

Kumpulan Arsip-ku

%d blogger menyukai ini: