Dinosaurus Hidup Lebih Lama

KOMPAS.com — Berdasarkan teori paling kuat yang diterima saat ini, kepunahan dinosaurus terjadi secara massal akibat tumbukan benda angkasa raksasa ke Bumi. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar 65 juta tahun lalu.

Namun, kemungkinan tidak semua spesies punah saat itu. Sampai 500.000 tahun kemudian ternyata masih ada yang bertahan hidup. Misalnya, Hadrosaurus, jenis dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan yang khas dengan moncong seperti paruh burung.

Reptil raksasa yang diperkirakan memiliki panjang tubuh dua belas meter itu hidup di wilayah yang sekarang merupakan antara Colorado dan New Mexico. Fosil tulang Hadrosaurus yang ditemukan 80 tahun lalu ternyata berumur 64,5 juta tahun dari hasil pengukuran akurat menggunakan teknik radioaktif dan magnetik.

Kesimpulan ini dilaporkan Jim Fassett dari Badan Survei Geologi AS (USGS) dalam jurnal Paleontologica Electronica edisi teranyar. Namun, masih ada yang menyangsikan temuan tersebut mengingat umur Hadrosaurus telah diperdebatkan selama delapan dekade.

“Ini kesimpulan yang kontroversial dan banyak paleontolog akan skeptis. Namun, kita semua tahu bahwa buaya bertahan hidup, jadi kemungkinan ada jenis dinosaurus tertentu yang bertahan hidup tidak mustahil,” ujar David Polly, editor jurnal ilmiah yang memublikasikannya.

Iklan

Perakitan Roket Ares I-X Selesai

FLORIDA, KOMPAS.com – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA menyelesaikan program perakitan roket Ares I-X, melengkapi persiapan tes peluncuran yang dijadwalkan Oktober 2009 mendatang. Roket tersebut belum merupakan versi penuh roket pendorong, Ares I.

Ares I-X merupakan bagian dari beberapa segmen roket Ares I. Roket Ares I sendiri merupakan komponen kunci dalam sistem transportasi luar angkasa generasi lanjut yang dikembangkan NASA. NASA merencanakan menggunakan Ares I untuk meluncurkan kapsul Orion, kendaraan angkasa yang akan digunakan membawa manusia dalam misi luar angkasa selanjutnya, setelah pesawat luar angkasa yang digunakan saat ini memasuki masa pensiun.

Versi roket tanpa awak yang akan diujicobakan kini berada di gedung perakitan wahana (vehicle assembly building/VAB) di Pusat Luar Angkasa Kennedy. Bagian-bagian terakhir dari roket Ares I-X, berikut modul awak dan sistem kegagalan peluncuran, telah disatukan 13 Agustus pada platform peluncur bergerak di VAB Florida.

Secara resmi, NASA telah mengeluarkan gambar Ares I-X untuk pertama kalinya, sebuah roket dengan tinggi mencapai 99 meter (327 kaki). Para insinyur NASA telah menyiapkan 700 sensor untuk mengetes roket dan menyiapkan beberapa sistem pengecekan dalam satu-dua pekan ini untuk memastikan Ares I-X, sukses dalam uji coba peluncuran.

Faktor bentuknya yang ramping dan panjang roket menjadi perhatian khusus, termasuk dalam pengetesannya. Tujuan utama tes Ares I-X adalah memastikan kestabilan Ares I, yang terdiri atas beberapa bagian roket, ketika diluncurkan. Tidak hanya sukses dalam uji coba di darat. Menurut manajer peluncuran, bagian roket Ares I-X harus mencapai ketinggian 40,2 kilometer kira-kira dua menit setelah waktu peluncuran ditetapkan.

Sebelumnya, sesuai simulasi, bagian bawah Ares I ditargetkan terlepas dan terjatuh di kawasan Samudra Atlantik. Mengenai pesawat ulang alik yang membawa manusia ke Bulan, NASA menjadwalkan pensiun pada tahun 2010. Adapun sistem Ares-Orion yang sedang dibangun saat ini tidak ditujukan untuk peluncuran sebelum awal tahun 2015. Sejumlah pihak menyebut ada keterlambatan dalam program pengembangan sistem baru menggantikan sistem yang lama. (GSA)

Matahari Bersifat Karsinogen

JAKARTA, KOMPAS.com – Para ahli kanker internasional menetapkan bahwa tabung yang memancarkan sinar ultraviolet (tanning beds) dan semua benda yang memancarkan radiasi ultraviolet masuk kategori atas akan risiko kanker. Mereka bahkan menempatkan tingkat bahayanya sama dengan racun arsenik dan gas mustar.

Selama bertahun-tahun para ilmuwan memosisikan radiasi ultraviolet dan sinar matahari yang membuat kulit coklat sebagai “mungkin bersifat karsinogenik”. Analisis terbaru terdiri dari 20 kali penelitian telah menyimpulkan bahwa risiko kanker kulit telah melompat sampai 75 persen ketika orang mulai menggunakan tanning beds sebelum usia 30 tahun.

Para ahli juga menemukan bahwa semua jenis ultraviolet menyebabkan mutasi yang membahayakan terhadap mencit, yang membuktikan bahwa radiasi tersebut bersifat karsinogenik. Pada penelitian sebelumnya hanya disebutkan satu jenis radiasi ultraviolet yang berbahaya. Dengan klasifikasi yang baru ini, tembakau, virus hepatitis B, dan pembersih cerobong juga bersifat karsinogenik.

Riset tersebut telah dipublikasikan di jurnal kesehatan Lancet Oncology, Rabu (29/7), oleh para ahli di International Agency for Research on Cancer di Lyon, Perancis, yang mengurus kanker dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Orang perlu diingatkan akan bahaya menggunakan sunbeds,” ujar Vincent Cogliano, salah seorang peneliti kanker. “Kami berharap, budaya yang keliru ini akan berubah sehingga para remaja tidak lagi berpikir untuk menggunakan sunbeds agar kulitnya bisa kecoklatan,” katanya. (AP/ISW)

Sumber : Kompas.com Kamis, 30 Juli 2009

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

twitter_ku

  • Tambah besar gadisku, tak terasa sudah 3,5 tahun menjadi pembawa kegembiraan dirumah kami, sehqt terus ya sayang. Jadilah anak yg pintar 5 months ago
  • Mes gemes gemeshhhh... 😡😡😠 6 months ago
  • Emak udah nggak sanggup lagi ngurus bawang, bisa pingsan nyium baunya 😷. Untung paksu baik hati, tiap hari mau aja ngurusin bawang 😍 6 months ago
  • Urusan per-bawang an semua di handle pak suami, dari ngupas sampai ngulek 😁😁 6 months ago
  • Udah hampir 8 tahun ngetwit, entah udah berapa kali ngetwit kangen nenek 😂 6 months ago

Kumpulan Arsip-ku