Trans Studio (Theme Park Terbesar di Dunia)

Hari ini 9 September 2009 (09-09-2009) adalah hari dengan tanggal yang unik serta bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana salah satu megaproyek Indonesia yaitu Trans Studio akan diresmikan oleh  Wakil Presiden indonesia Bapa Yusuf Kalla. Trans Studio, yang merupakan bagian dari Para Group, adalah Indoor Theme Park terbesar di dunia. Ada rencana jangka panjang bahwa Theme Park semacam ini akan dibangun di 20 kota di Indonesia.

Trans Studio Theme Park berlokasi di jalur utama Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, sekitar 2 km barat daya atau 3 menit dari kawasan Pantai Losari. Theme Park seluas 2,7 hektar ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari pusat-pusat terpenting di kota Makassar. Ia juga dekat dengan rencana terminal kendaraan umum.

Trans Corp (Trans TV dan Trans7) merupakan stasiun televisi pertama di dunia yang memiliki Theme Park. Trans Studio, yang dikembangkan oleh PT. Trans Kalla Makassar (hasil kongsi antara perusahaan milik Keluarga Kalla atau Kalla Group dengan Para Group, perusahaan milik Chairul Tandjung, pemilik Trans Corp), dibangun di atas lahan seluas lebih kurang 24 hektar di wilayah Tanjung Bunga. Di lokasi lapang ini akan hadir sebuah proyek pembangunan terpadu bertaraf dunia, yang mencakup pusat hiburan keluarga, pusat perbelanjaan, hotel dan pemukiman.

Setiap unit usaha saling melengkapi dan mampu merangkul pasar yang luas. Keberadaannya di kawasan pariwisata, yang dekat dengan wilayah pemukiman dan usaha, merupakan nilai tambah. Kawasan pemukiman kelas menengah dan kelas atas, serta kawasan bisnis di Kota Mandiri Tanjung Bunga yang berada dalam satu lokasi, adalah pasar potensial yang menjanjikan. Pantai Selat Makassar yang terdapat di sebelah utara dan barat lokasi menjadi daya tarik yang menguntungkan, dan akan menjadi bagian dari konsep pembangunan secara keseluruhan.

Kita patut berbangga karena Indoor Theme Park ini adalah karya putra-putri bangsa Indonesia yang sekelas dunia dan tidak kalah dari Disneyland. Lewat Trans Studio ini, terbukti bahwa sejumlah karyawan Trans Corp telah berkarya jauh melampaui sekadar mengoperasikan sebuah stasiun TV. Kehadiran Trans Studio tentunya juga akan bersinergi dengan unit-unit bisnis Para Group lainnya.

Di Trans Studio ini ada 21 wahana, seperti Dunia Lain, Si Bolang, Jelajah, Magic Thunder Coaster, Ayun Ombak, Angin Beliung, dan masih banyak lagi wahana yang menarik dan seru. Jika Anda perhatikan, beberapa wahana itu dinamai persis seperti nama program-program di Trans TV dan Trans7. Para pengunjung dapat merasakan bagaimana menjadi seorang bintang di depan kamera, serta menjadi orang-orang di balik layar dari tayangan-tayangan favorit Trans TV dan Trans7, seperti: Ceriwis, Dunia Lain, dan Jelajah.

Ada Studio Central, sebuah kawasan menakjubkan yang menampilkan gemerlap dunia layar lebar dan TV dalam tampilan a’la Hollywood era tahun 60-an. Zona ini menyingkap rahasia-rahasia di balik layar. Ada juga The Lost City, suatu kawasan super seru yang dikemas secara apik untuk dinikmati para petualang sejati.

Trans Studio juga memiliki toko-toko merchandise (Trans Studio Store) yang menjual barang-barang unik, bagus, dan menjadi ciri khas keberadaan pengunjung di Trans Studio, Trans TV, dan Trans7. Ada Fashion Hub yang menampilkan fashion items dari merek-merek ternama dunia, yang akan mengukuhkan Trans Studio Walk sebagai kawasan paling modis dan prestisius di kota Makassar.

Tak lupa, ada bioskop 4D yang memanfaatkan kecanggihan teknologi visual dan suara serta peralatan audio-visual termodern, untuk memberi kepuasan menonton yang maksimal bagi para penikmat layar lebar. Bagi penggemar barang elektronik dan gadget, juga disajikan produk inovasi terbaru di bidang IT, elektronik dan digital. Selain itu, ada Gourmet Emporium yang mempunyai banyak sekali tempat makanan (Food Chain), dari menu Nusantara sampai menu internasional, yang dijamin enak-enak dan pastinya menggugah selera.

Harga tiket di Trans Studio ini juga relatif murah. Hanya dengan uang Rp 10 ribu, Anda sudah mendapatkan tiket pass yang berlaku seumur hidup. Untuk menikmati wahananya, hanya dengan Rp 90 ribu, Anda dapat bermain di sebanyak 15 wahana dan masih ada 6 wahana lain di luar wahana tersebut.

Harga Minimum Paket Perorang : Rp. 100.000
Sudah termasuk :
Harga Kartu Studio Pass (Dapat digunakan seterusnya) = Rp. 10.000
Tarif masuk berikut 15 wahana permainan (masing2 1x main) = Rp. 90.000

Harga tiket tambahan perorang perwahana :

  1. Trans City Theater Rp.15.000
  2. Studio Tour Rp.15.000
  3. Grand Esia Studio View Rp.10.000
  4. Hollywood Bumper Car Rp.15.000
  5. Sepeda Terbang Rp.15.000
  6. Rimba Express Rp.15.000
  7. Si Bolang Rp.10.000
  8. Safari Track Rp.15.000
  9. Balloon House Rp.10.000
  10. Karosel Rp.15.000
  11. Ayun Ombak Rp.15.000
  12. Angin Beliung Rp.15.000
  13. Kano Kali Rp.15.000
  14. Mini Boom Boom Car Rp.15.000
  15. Putar Petir Rp.15.000

Harga tiket permainan yang tidak termasuk dalam paket perorang :

  1. Bioskop 4D Rp.25.000
  2. Kids Studio Rp.25.000
  3. Magic Thunder Coaster Rp.25.000
  4. Dragon’s Tower Rp.25.000
  5. Jelajah Rp.25.000
  6. Dunia Lain Rp.25.000

Mengapa Memilih Makassar

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Theme Park ini dipilih dibangun pertama di Makassar, bukan di Bandung, Surabaya, Medan, atau Denpasar, misalnya? Jawabannya: Coba lihat besarnya pasar yang jadi target. Jumlah penduduk di lingkungan Makassar ada 3,4 juta. Sedangkan penduduk di lingkungan Sulawesi Selatan ada 4,6 juta. Jika ditotalkan, ada 8 juta penduduk.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sangat tinggi. GDP Makassar lebih tinggi dari GDP rata-rata Nasional, dan mengalami pertumbuhan yang signifikan, dari Rp 7,1 juta di tahun 2002 menjadi Rp 9,3 juta di tahun 2006.

Kini Makassar tidak sekadar menjadi pintu gerbang menuju wilayah timur Indonesia. Pertumbuhan ekonomi, sarana dan prasarana serta pariwisata yang demikian pesat beberapa tahun terakhir ini telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dari berbagai pihak. Kehadiran mega proyek Trans Studio turut membentuk identitas baru kota ini, sebagai magnet di timur Indonesia.

Seperti dikatakan seorang pakar ekonomi dari AIM (Asian Institute of Management) Filipina, ketika mengomentari pilihan lokasi proyek ini: “Saya mengerti, Jawa adalah masa lalu, Sumatera adalah masa kini, dan Indonesia Timur adalah masa depan.”

Dikutip dari berbagai sumber

Mega Proyek di Indonesia

Mungkin ini akan membawa Indonesia menjadi negara maju dan di pandang oleh negara – negara tetangga dan juga dunia tentunya. Berikut ini adalah beberapa Mega Proyek
berkelas dunia, dirancang oleh arsitek terhebat dibidangnya. Diantaranya ada yang sudah selesai dan ada yang masih dalam tahap pembangunan. Check this out !

Theme Park Trans Studio World Makassar

Theme Park yang terletak di Makasar, Sulawesi ini akan menjadi Theme Park Indoor terbesar di Dunia. Memiliki lebih dari 20 wahana permainan dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti Mall, Restoran, Hotel, dan Marina.

Separuh pembangunan telah selesai 2009 ini, dan masih berlanjut hingga 2010. Theme Park Trans Studio World Makassar mengadopsi konsep Universal Studio di Amerika Serikat.

Menara Jakarta
Menara Jakarta adalah sebuah menara baru yang dibangun di area Bandar Baru Kemayoran, Jakarta. Menara ini akan menjadi Menara tertinggi di Indonesia, sekaligus di Dunia dengan ketinggian 558 meter dan direncanakan akan selesai pada tahun 2010 atau 2011.

Dari Kiri ke Kanan: Menara Malaysia, Menara Shanghai Pearl, Menara Toronto, Menara Jakarta.

Menara Jakarta rencananya akan dilengkapi dengan fasilitas:
* Restoran berputar
* Mal besar
* Hotel
* Pusat pameran
* Pusat pendidikan dan pelatihan
* Pusat multimedia disertai pemancar siaran radio dan televisi
* Pusat perdagangan dan bisnis

Mega Proyek Universitas Indonesia


Indonesia bakal memiliki perpustakaan termodern, terbesar dan terindah di dunia yang akan berlokasi Universitas Indonesia (UI) Depok di areal seluas 2,5 hektar. Gedung perpustakaan UI dirancang dengan konsep “sustainable building” kebutuhan energi menggunakan sumber terbaru yaitu Energi Matahari.

Area baru tersebut bebas asap rokok, hijau serta hemat listrik, air dan kertas. Hal inilah yang menjadikan perpustakaan UI terbesar, termodern dan terindah di dunia.

Selain perpustakaan yang megah dan modern, kabarnya UI juga akan segera membangun Stasiun Kereta Termegah yang tergabung ke dalam rangkaian UI Mega Proyek.

Bahan bangunannya pun dipercaya akan mengandung bahan-bahan alam yang ramah lingkungan. Hal ini terkait dengan konsep Green Campus-nya UI.

UI Station 1 and Station 2, University of Indonesia.


Dikabarkan proyeknya akan berjalan dari tahun 2009 ini tepat setelah perpustakaan megah selesai dibangun dan proyek ini akan berakhir pada tahun 2010.

Jembatan Suramadu


Tanggal 10 Juni 2009 merupakan hari paling bersejarah bagi dua pulau yang berseberangan ini, yaitu Surabaya (Pulau Jawa) dan Pulau Madura.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan sebuah jembatan diantara kedua pulau tersebut yaitu Jembatan Suramadu dengan panjang 5,4 Km (terpanjang di Indonesia) yang menghabiskan biaya sebesar 4,5 triliun.

Jembatan Suramadu

Jembatan Selat Sunda


Jembatan Selat Sunda merupakan salah satu Mega proyek pembuatan jembatan yang melintasi selat sunda dan juga sebagai penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Pembangunan jembatan selat sunda diperkirakan menelan biaya sebesar USD10 miliar atau 100 triliun Rupiah.

Jika dapat terealisasikan jembatan selat sunda akan menjadi jembatan terpanjang di dunia dengan panjang 31 km dan lebar 60 m. Di rencanakan pembangunan jembatan selat sunda dimulai pada 2010 dan mulai dioperasikan pada tahun 2025.

“Semoga Indonesia semakin maju dengan adanya proyek – proyek besar yang di bangun negara ini, dan tentunya juga dapat bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Sumber  : http://terselubung.blogspot.com/2009/09/mega-proyek-di-indonesia_04.html

JAKARTA, IN NEED OF IMPROVEMENTS

Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta, yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit di antara gedung tinggi, terhampar perkampungan di mana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

Di saat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.

Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri,
sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok. Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis” .

Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi
Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal
sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional”). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak
ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat
penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.

Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota
belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang
monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, di samping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser
philharmonic yang terletak persis di bawah Petronas Tower, salah satu gedung
tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan
grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang
menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari
Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, di mana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila .

Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung
ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak
menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun semuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang
swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.

Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kuala Lumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan
warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.

Selain Singapura, Kuala Lumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan kereta api kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem “Rapid” memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kurang lebih Rp 4.600,00) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang “Sky Train” dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai transportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur
tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan transportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan di bawah kota Nairobi dan Medellin

Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup di sana tidaklah murah. Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh di atas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan per kapita DI BAWAH $1000??

Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh di belakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kuala Lumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. “Kita harus berhati-hati” kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. ” Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kuala Lumpur akan bernasib sama seperti Jakarta!”

Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kuala Lumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan,
sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.

( oleh Rekan Tyas Febriana Dwitha Ning atas terjemahan artikel yg ditulis oleh : Andre Vitchek – Worldpress.org contributing editor July 26, 2007).

BOO/BOT (Build Operate Own / Build Operate Transfer)

Pola BOO/BOT (Build Operate Own / Build Operate Transfer) Dalam Pembangunan Infrastruktur Di Daerah

Pembangunan Infrastruktur dalam era otonomi daerah telah menjadi tanggungjawab sepenuhnya Pemerintah Daerah. Daerah-daerah yang tidak memiliki sumber keuangan yang cukup untuk membangunnya harus mencari alternatif terbaik untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Salah satu alternatif yang sering digunakan adalah penggunaan pola BOO/BOT (Build Operate Own / Build Operate Transfer).

Pola BOO/BOT dikenal luas di dunia, sebagai salah satu jalan keluar bagi permasalahan dana dalam membangun infrastruktur, seperti sarana transportasi, telekomunikasi dan listrik.

Terdapat berbagai variasi atau istilah BOO/BOT yang dikenal luas, diantaranya : FBOOT (Finance Build Own Operate Transfer), BOL (Build Operate Lease), DBOM (Design Build Operate Maintain), BOT (Build Operate Transfer), dan sebagainya.

Istilah BOO/BOT digunakan untuk semua tipe Concession Agreement.

Pertimbangan-pertimbangan pokok bagi pembangunan proyek infrastruktur dengan pola BOO/BOT yang didasarkan atas kepentingan Pemerintah Daerah, seperti:

1.Tidak membebani neraca pembayaran pemerintah (offbalance-sheet financing);
2.Mengurangi jumlah pinjaman Pemerintah maupun sektor publik lainnya;
3. Merupakan tambahan sumber pembiayaan bagi proyek-proyek yang diprioritaskan (additional finance sources for priority projects);
4. Tambahan fasilitas baru;
5. Mengalihkan resiko bagi konstruksi, pembiayaan dan pengoperasian kepada sector swasta;
6. Mengoptimalkan kemungkinan pemanfaatan perusahaan maupun teknologi asing;
7. Mendorong proses alih teknologi, khususnya bagi kepentingan negara-negara berkembang;
8.Diperolehnya fasilitas yang lengkap dan operasional setelah masa akhir konsesi.

Sebelum menentukan dan untuk keberhasilan pembangunan dan pengoperasian suatu fasilitas/proyek infrastruktur yang menggunakan pola BOO/BOT maka secara konseptual perlu dipertimbangakan faktor-faktor, seperti:

1.Tipe fasilitas;
2. Manfaat sosialnya;
3. Dukungan Pemerintah (Prinsipal) yang dapat diberikan kepada Promotor;
4. Kualifikasi dan pengalaman dari Promotor itu sendiri;
5. Lokasi proyek/fasilitas tersebut;
6. Besar ekuitas yang akan dipakai;
7. Jaminan kelangsungan suplai bahan mentah;
8. Jaminan pembelian atas produk dan atau jasa yang dihasilkan dari pengoperasian fasilitas-fasiltas tersebut;
9. Jangka waktu konsesi;
10. Komponen dari masing-masing paket yang terkait dengan konstruksi, operasi, pemeliharaan, pembiayaan dan penggerak perolehan penerimaan;

Para pihak yang terlibat dalam pembangunan dengan pola BOO/BOT ini adalah:

1. Prinsipal/ Grantor adalah pihak yang secara keseluruhan bertanggungjawab atas pemberian konsesi dan merupakan pemilik akhir dari proyek/fasilitas tersebut setelah habisnya jangka waktu. Dalam hal ini Pemerintahlah yang bertindak sebagai Prinsipal atau yang ditunjuk oleh Pemerintah.
2. Promotor adalah suatu badan hukum/organisasi yang diberi konsesi untuk membangun, memiliki, mengoperasikan dan mengalihkan fasilitas tertentu. Organisasi promotor ini biasanya didukung oleh pihak-pihak lain, seperti : Contractor, Investor, Operator, Supplier, Lender , dan User. Pihak yang disebutkan ini masing-masing dapat menjadi satu dengan promotor ataupun terpisah.

Jenis-jenis Kontrak yang terkait dalam kegiatan pembangunan dan pengoperasian proyek/fasilitas infrastruktur dengan polaa BOO/BOT, meliputi antara lain:

1. Kontrak Konsesi (Concession Agreement) Kontrak antara Prinsipal dan Promotor. Kontrak ini menjadi dasar dari kontrak-kontrak lainnya.
2. Kontrak Konstruksi (Construction Contract) Kontrak yang dibentuk antara Promotor dan kontraktor. Dalam sejumlah proyek kedua pihak dapat menjadi satu pihak.
3. Kontrak Suplai (Supply Contract) Kontrak antara Supplier dan Promotor tentang suplai
bahan-bahan mentah untuk proyek bersangkutan.
4.Shareholder Agreement Kontrak yang dibentuk antara Promotor dan Investor. Investor disini dapat diartikan sebagai penyandang dana yang ikut membiayai proyek. Dapat berasal dari Lembaga keuangan ataupun individu.
5. Kontrak Operasional (Operation Contract) Kontrak antara Promotor dan Operator tentang pengoperasian atau pemeliharaan fasilitas yang telah dibangun.
6. Kontrak Pinjaman (Loan Agreement) Kontrak yang dibentuk antara Lender dan Promotor seputar sumber pembiayaan. Lender dapat berupa Bank-bank investasi, dana pensiun, lembaga penyedia kredit ekspor yang menyediakan dana bagi pembiayaan fasilitas tertentu.
7. Offtake Contract Kontrak ini dibentuk antara User dan Promotor. Pola BOO/BOT ini sangat kompleks sehingga membutuhkan pengetahuan yang cukup bagi aparat daerah untuk melaksanakannya. Pelaksanaan yang salah akan membawa kerugian baik bagi pemerintah daerah sendiri maupun bagi masyarakat, termasuk juga investor.

Pembekalan pengetahuan tentang pola BOO/BOT ini hendaknya secara berkesinambungan diberikan kepada aparat pemerintah di daerah. Berbagai disiplin ilmu harus saling melengkapi dalam proyek ini. Untuk bidang hukum, pakar konstruksi haruslah dilibatkan dalam memberikan pembekalan baik dari segi dasar hukum, teknis dan prosedur yang diatur oleh peraturan perundangan serta bentuk kontrak yang sesuai bagi keperluan proyek bersangkutan.

by Abdul Jeffry
http://www.facebook.com/profile.php?id=1497043440).

Februari 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

twitter_ku

  • Harus banyak bersabar di rezim skrg. Bentengi diri dgn iman. Semoga kita dijauhkan dari segala hal buruk. Semoga Allah slalu melindungi kita 1 month ago
  • Dulu jarang dengar kata rezim. Kalaupun kata rezim dipake, biasanya untuk pemimpin yang zalim. Nah sekarang, kata² rezim dimana² 1 month ago
  • Ma Syaa Allah, sungguh berat finah kpd beliau. Semoga ttp bisa bersabar menghadapi cobaan, semoga kebenaran segera terungkap #savepatrialis 1 month ago
  • Diy² yang udah dibikin, ada yg belom kelar ada juga yang bingung mau ditaroh dimana. Sementara… instagram.com/p/BPuA_V-BhEF/ 1 month ago
  • Karya lain minggu ini, nyobain decoupage talenan dan berhasil. Ini belum selesai, tinggal di… instagram.com/p/BPJchcbhg7Y/ 1 month ago

Kumpulan Arsip-ku