Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal

Di dalam ukur tanah selain pengukuran sudut horisontal (mendatar), sesungguhnya juga dalam waktu/posisi persamaan pada station point tempat alat ukur sudut (Theodolit) diletakkan, dilakukan pada pengukuran sudut vertikal.

Tujuan dan Fungsi :

Tujuan pengukuran sudut vertikal adalah untuk menentukan :

  • Besarnya sudut tegak yang terbentuk antara dua titik terhadap arah mendatar atau arah vertikal.
  • Jarak mendatar antara 2 (dua) titik, yang biasa dinamakan jarak optis
  • Jarak tegak antara 2 (dua) titik, yang biasa dinamakan beda tinggi (Δh)
    • Fungsi dari pengukuran sudut vertikal ialah untuk menentukan nilai ketinggian (elevasi) suatu titik terhadap titik yang lain

Ada 2 (dua ) Sistem Dasar Pengukuran Sudut Vertikal:

  1. Sudut yang dihitung terhadap arah mendatar pada skala lingkaran vertikal yang disebut sudut miring (helling) (h).

Artinya: Bila teropong dalam keadaan mendatar, bacaan sudut vertikal = 0.

  1. Sudut yang terbentuk dihitung terhadap arah vertikal (tegak) pada skala lingkaran vertikal disebut sudut zenit (Z).

Artinya: Bila teropong dalam keadaan mendatar bacaan sudut vertikal = 90°.

Dasar penentuan besarnya sudut vertikal pada 2 sistem tersebut disebabkan karena perbedaan jenis/konstruksi theodolit yang umumnya perbedaan konstruksi pada skala lingkaran vertikal.

Untuk jenis theodolit yang menggunakan helling sebagai sudut vertikal h:

Besarnya sudut miring dengan batasan – 90° < h < 90°

h > 0 bila target lebih tinggi dapada teropong theodolit

h < 0 bila lebih rendah dari pada teropong theodolit

  • Untuk jenis theodolit yang menggunakan zenit sebagai sudut vertikal Z:

Besar sudut zenit dengan batasan 0°, Z, 180° dan 180° < Z < 360°

Bila target bidik lebih tinggi dari pada teropong theodolit, maka Z < 90° atau 270° < Z < 270°

Hubungan antara sudut miring helling (h) dan sudut zenit (Z) adalah: h + Z = 90°

untitled2

Gambar 4. Pengukuran Sudut Vertikal

Keterangan :

A, B         : Nama titik/patok

Dm         : Jarak Miring

D             : Jarak Datar

Δh           : Jarak Vertikal/Beda Tinggi

H             : Sudut Miring

Z              : Sudut Zenit

Ti             : Tinggi Alat

P             : Jarak Vertikal/Garis Mendatar Terhadap Bacaan Tengah Benang

Dari kondisi diatas maka dapat ditentukan jarak mendatar (D) secara optis dan beda tinggi antara titik A dan titik B.

Persamaan yang diperoleh dalam hal ini adalah sebagai berikut :

Jarak Miring:

Dm = (Ba- Bb) x 100. sin Z      Jarak miring dengan sudut Zenit

Dm = (Ba – Bb) x 100. cos h    Jarak miring dengan sudut helling

JarakDatar

Dm= Dm x sinZ          Jarak datar dengan sudut

Dm=Dm x sinh           Zenit Jarak datar dengan sudut helling

Dengan demikian persamaan menjadi :

Dm = (Ba – Bb) x 100. sin2 Z

Dm = (Ba – Bb) x 100. cos2 h

Sedangkan untuk menentukan jarak vertikal (beda tinggi) antara titik A dan titik B dapat digunakan sebagai berikut :

Δh = (P + Ti) – Bt

P = D x Ctg Z = D x 1 / tan Z


  1. Pengukuran Dengan Alat Penyipat Datar

Pengetahuan Dasar

Penyipat datar adalah menentukan/mengukur beda tinggi antara dua titik atau lebih. Ketelitian penentuan ukuran tergantung pada alat – alat yang digunakan serta pada ketelitian pengukuran dan yang dapat dilaksanakan.

Biasanya kayu sipat merupakan alat pertolongan yang paling sederhana pada penentuan beda tinggi beberapa titik tertentu. Kayu sipat biasanya berupa papan yang lurus dan sekitar 3.00 m panjangnya, kita pegang horisontal dengan bantuan sebuah nivo tabung. Kemudian dengan sebuah rambu ukur beda tinggi antara dua titik tertentu.

Pada penentuan beda tinggi dua titik yang jauh, pengukuran dengan kayu sipat menjadi sukar dan kurang teliti. Tetapi kayu sipat dipakai lima kali dan di horisontalkan dengan nivo tabung pada titik dan sepanjang sisi kayu sipat dan membaca rambu ukur.

Sasaran itu lebih mudah kita capai dengan alat bidik sederhana atan dengan celah pejera dan pejera seperti pada sebuah bedil. Alat ini dapat dipasang pada sebuah statif (kaki tiga) atau dipegang dengan tangan saja.

Pada alat bidik yang dipegang tangan kita harus memperhatikan sasaran dan nivo sekaligus. Tetapi alat bidik ini masih kurang teliti karena kita membaca rambu ukur langsung (tanpa teropong) jaraknya agak terbatas. (F, Heintz.1979)

  1. Alat Penyipat Datar

Apabila kita ingin menentukan beda tinggi pada jarak jauh dengan teliti, bidik garis kita tentukan dengan suatu alat bidik dengan teliti tanpa ada paralaks dan untuk membaca mistar diperlukan sebuah teropong. Atas dua dasar ketelitian ini di konstruksikan semua alat penyipat datar.

Alat – alat penyipat datar yang sederhana terdiri dari sebuah teropong dengan garis bidiknya (garis vizier) dapat dibuat horisontal dengan sebuah nivo tabung. Untuk mencari sasaran sembarang sekeliling alat penyipat datar, maka teropong dan nivo tabung dapat diputar pada sumbu utama yang dapat di atur pada sekrup pendatar. Dengan sekrup penyetel fokus bayangan rambu dapat di setel tajam. Dengan sekrup penggerak horisontal bayangan dapat di setel tajam.

Cermin yang dapat diputar keatas memungkinkan kita mengawasi nivo tabung dari okuler teropong. Dalam keadaan tertutup cermin itu melindungi nivo tabung

Makin lama alat penyipat datar mengalami perkembangan. Suatu perlengkapan menentukan garis bidik horisontal secara automatis oleh pengaruh gaya berat, maka garis bidik disetel dahulu kira – kira dengan ketelitian ± beberapa menit busur, menggantikan nivo tabung. (F, Heintz. 1979)

  1. Penyipat Datar Memanjang

Apabila jarak antara dua titik 1 dan 5 yang harus ditentukan selisih tingginya, menjadi demikian besar, sehingga rambu ukur tidak: dapat dilihat dengan terang dan pembacaan menjadi kurang teliti, atau kalau saja keadaan lapangan menjadi sedemikian rupa, sehingga garis bidik tidak kena rambu ukur karena jatuh diatas atau dibawah rambu ukur maka terpaksa jarak antara titik 1 dan titik 5 itu dibagi atas jarak-jarak yang lebih kecil, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan baik. Jarak bidik biasanya dipilih antara 50 – 60 m. Untuk menentukan beda tinggi antara dua titik I dan titik 5 yang jaraknya besar, maka cara penyipat datar menjadi :

untitled3

Gambar 2. Pengukuran penyipat datar memanjang dan melintang

Satu rambu ukur kita dirikan pada 1 titik dan kita pilih untuk untuk alat penyipat datar J1, sedemikian rupa, sehingga garis bidik masih kena rambu ukur pada titik 1. Rambu ukur kedua didirikan diatas titik 2 yang dipilih sedemikian rupa, sehingga rambu ukur pada titik 2 dan jarak alat penyipat datar dengan kedua rambu ukur masing-masing sama.

Sekarang kita lakukan pembacaan rambu ukur depan dan pembacaan rambu ukur muka Setelah pembacaan dilakukan dan ditulis pada buku ukur, alat penyipat datar dipindahkan ketitik Jz. Rambu ukur pada titik 2 kita putar hati-hati ke arah alat penyipat datar pada titik J2. Kita baca rambu ukur R2, pindahkan rambu ukur kemudian ketitik 3, sehingga kita dapat membaca rambu ukur muka V2 dan sebagainya. Peketjaan ini kita ulangi sampai dengan pembacaan rambu ukur muka Va pada titik 5.

Pembacaan-pembacaan R1 s/d R7 dan V1, s/d V14 kita catat sebagai tabel pada buku ukur seperti berikut ini :

Titik

Pembacaan

Rambu ukur

belakangR

Rambu ukur

mukaV

P2

R2

2,900

P3

V3

2,390

P4

V4

0,950

P5

V5

0,840

Lb=2,900

Lm=4,18

Total = Lb Lm = -1,28m

Tabel 1.. Pembacaan rambu ukur

Apabila kita hanya mencari selisih tinggi antara titik 1 dan titik 5, maka dapatlah semua jumlah pembacaan rambu ukur muka dikurangi jumlah semua pembacaan rambu ukur belakang. Pada

contoh 1 ini selisih tinggi antara titik 1 dan titik 5 menjadi + 4.375 m, atau secara umum :

h = (R4+R2+R3 … +Rn) – (V1 +V2+V3 … +Vn)

Penentuan RI, RII, dan VI dan V2 dsb. Pada contoh ini dan contoh berikut hanya kita pilih untuk memudahkan pengertian pada tabel-tabel. Jikalau perlu juga menentukan tinggi titik-titik antara 2, 3, dan 4 maka antara dua titik berturut-turut kita tentukan beda tingginya dengan rumus : R – V.

Walaupun pada tabel harus menulis tiap-tiap titik dua kali, satu pembacaan rambu ukur muka dan satu kali pembacaan rambu ukur belakang, sehingga dapat menghindarkannya dengan menulis pembacaan rambu ukur muka dan pembacaan rambu ukur belakang pada satu garis seperti dilihat pada tabel 2.2 berikut. Selalu kita hanya memperhatikan titik-titik tempat kita mendirikan rambu ukur dan bukan titik meletakkan alat penyipat datar.

Perbedaan tinggi titik 1 dan titik 2 misal kita dapatkan dari hasil pengurangan Rl – V2. Nilai ini sebaiknya ditulis pada garis antara titik 1 dan titik 2, dan misalnya kita gunakan satu baris untuk hasil pengurangan yang positif (+) dan satu baris untuk negatif (-) yang memudahkan pekerjaan/perhitungan selanjutnya.

Titik

Pembacaan

Belakang R

Rambu ukur

muka V

R-V

+

P2

R2

2,900

2,900

P3

R2

2,900

V3

2,390

0,51

P4

R2

2,900

V4

0,950

1,95

P5

R2

2,900

V5

0,840

2,06

Tabel.2. Hasil pengurangan R dan V

Hasil pengurangan antara jumlah semua pembacaan rambu ukur belakang [R] dan jumlah semua pembacaan rambu ukur muka [V] menjadi beda tinggi titik: 1 dan titik 5. Hasil yang sama harus kita dapat sebagai jumlah baris [R – V]. Maka rumus [R] – [R – VI] selalu kita lakukan sebagai pemeriksaan tabel tersebut. cara penyipat datar ini sering dilakukan pada jarak yang jauh.

Pada peristiwa ini kita harus melakukan kontrol yang mantap. Kontrol tidak hanya menemukan kekeliruan dalam pembacaan melainkan juga membuktikan ketelitian pengukuran – pengukuran kita.

Misalkan kita tidak mengetahui tinggi dua titik yang berjauhan jaraknya, maka kita penyipat datar bolak – balik. Hasil pengurangan jumlah R dan jumlah V sebetulnya hams menjadi nol.

Tetapi dalam prakteknya akan selalu terjadi perbedaan kecil. Kesalahan akhir ini terdiri dari kesalahan yang sistematis dan kesalahan yang kebetulan, kesalahan – kesalahan yang tidak dapat dihindarkan.

Kesalahan yang sistematis menjadi kesalahan yang merambat, misalnya oleh statif alat penyipat datar yang makin lama makin lebih masuk dalam tanah yang lemah atau oleh penurunan rambu ukur pada waktu memindahkan alai penyipat datar.

Pengalaman menunjukan, bahwa kesalahan yang sistematis dapat diperkecil dengan meletakkan statif alat penyipat datar haruslah stabil dan sekuat mungkin pada titik- titik yang telah ditentukan di lapangan. Sebaiknya kita memeriksa dan membaca rambu ukur beberapa kali dengan harapan memperbaiki hasil bacaan, maka kemungkinan timbul kesalahan yang sistematis justru makin lama makin besar.

Untuk menghemat waktu kita juga boleh menggunakan dua rambu ukur untuk pembacaan rambu ukur belakang dan pembacaan rambu ukur muka. Kesalahan acak (kebetulan) timbul dengan tanda (+) maupun biasanya kesalahan acak saling menghapuskan dan menjadi kecil sekali. Kesalahan acak misalnya timbul dari nivo tabung yang tidak disetel cukup teliti dan sebagainya.

Nilai kesalahan yang diperbolehkan ditentukan oleh jenis dan tugas alat penyipat datar dan ketelitian yang diharapkan. Akan tetapi ketelitian yang diharapkan menentukan juga tipe alat penyipat datar yang harus digunakan. Kesalahan yang timbul biasanya kita bagi atas semua titik – titik yang diperhatikan pada penyipat datar.

Perhitungan penyipat datar selalu dilakukan pada buku ukur dalam orginal untuk menghindari kesalahan pada waktu menyalin. Karena itu buku ukur harus cukup besar supaya menghindari kekurangan baris – baris perhitungan pada saat kita mengolah data. (F. Heintz. 1979)

  1. Profil Memanjang

Profil memanjang diperlukan untuk membuat trase jalan kereta api, jalan raya, saluran air, pipa air minum, dan sebagainya. Dengan jarak dan perbedaan tinggi titik – titik di atas permukaan bumi, di dapatlah irisan tegak lapangan yang di namakan profil memanjang pada sumbu proyek Bersama dengan profil melintang dan peta situasi kita dapatkan dasar – dasar pada perencanaan proyek terse but diatas.

Penyipat datar pada profil memanjang dapat dilakukan. Biasanya timbul juga banyak titik di antaranya (Z) kita harus menggunakan satu perhitungan yang lebih sederhana. Bentuk profil memanjang dapat dilihat pada gambar.

  1. Profil Melintang

Profil melintang diperlukan untuk menggambarkan bentuk penampang melintang suatu jalan ataupun saluran air yang direncanakan. Dengan jarak dan perbedaan tinggi titik-titik di atas permukaan bumi, didaptlah irisan arah melintang yang dinamakan profil melintang. Bentuk profil memanjang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

untitled4

Gambar Profil Melintang

<a href=”http://www.buyblogreviews.com&#8221; ><img src=”http://www.buyblogreviews.com/sponsoredImages/sponsoredpost.gif&#8221; alt=”Blog Advertising” border=”0″ /></a>

Iklan

Pengukuran Detail

Dalam kegiatan pengukuran situasi (pemetaan topografi daerah/lokasi) diperlukan adanya suatu jaringan kerangka dasar pemetaan yang terdiri kerangka dasar horisontal maupun kerangka dasar vertikal sebagai titik referensi/ikat/ kontrol/acuan bagi pengukuran titik-titik detail. Dari kondisi ini terlihat ada tiga bagian penting/utama yang harus dilakukan dalam rangka pengukuran situasi, yaitu :

  1. Penentuan dan pengukuran posisi horisontal untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan poligon tertutup).
  2. Penentuan dan pengukuran posisi vertikal (elevasi) untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan matode sipat datar).
  3. Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dan vertikal untuk titik-titik detail atau objek daerah/lokasi yang dipetakan menggunakan metode tacheometry.

Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dengan metode poligon tertutup telah di pelajari dan di peraktikan sebelum materi ini dibahas. Sedangkan untuk penentuan dan pengukuran posisi vertikal telah dipelajari pada Surveying Camp.

Pada pertemuan ini akan dibahas dan mempelajari penentuan dan pengukuran titik-titik detail dilapangan dengan metode tacheometry, berikut merupakan tahapan yang umum dilakukan dalam pelaksanaan pengukuran situasi. (S, Ferry. 2005)

Penentuan posisi horisontal objek

Untuk menentukan/posisi titik-titik suatu objek di lapangan memerlukan pengukuran arah (sudut jurusan/azimut), jarak mendatar dan sudut mendatar. Sedangkan untuk menentukan titik-titik objek tersebut pada bidang datar (di kertas) menggunakan sistem proyeksi tertentu (dalam hal ini proyeksi ortho).

Pengukuran titik-titik detail/objek dilakukan dengan banyak cara adapun cara/metode yang umum digunakan ialah ektrapolasi dengan sistim koordinat kutub. Prinsip penentuan posisi horisontal titik-titik detail ditentukan berdasarkan:

  1. Jarak mendatar dan sudut horisontal terhadap titik-titik ikat/referensi/ kontrol/acuan.
  2. Jarak mendatar dan arah/azimut/sudut jurusan (utara magnetik).

Langkah Kerja Pengukuran Profil Memanjang

  1. Persiapkan semua peralatan yang diperlukan (alat PPD).
  2. Merencanakan letak titik PPD, letakan alat di tempat dimana alat dapat membidik beberapa titik poligon (selama alat PDD dapat melakukan pembacaan).
  3. Setelah alat diletakan ditempat yang telah direncanakan kemudian dapat dilanjutkan dengan mendirikan alat.
  4. Cara pemasangan PPD sama dengan cara pemasangan alat theodolit hanya saja pada pemasangan PPD ini tidak memerlukan centering patok.
  5. Mendirikan rambu diatas patok titik poligon P1 kemudian bidik rambu tersebut dan baca bacaan benang atas, bawah dan tengah (BA, BT dan BB).
  6. Setelah titik poligon p1 selesai dibidik kemudian pindah rambu ukur pada titik poligon berikutnya yaitu P2 lakukan pembidikan dan pembacaan seperti langkah awal (titik P1).
  7. Lakukan langkah tersebut sampai dengan titik Pn dan baca bacaan benangnya (titik poligon P11 dijadikan titik akhir atau bacaan belakang).
  8. Setelah pembacaan titik poligon Pn selesai dilakukan, kemudian pindah alat ketempat yang dapat membidik beberapa titik tetapi titik P5 masih dapat dibidik.
  9. Bidik kembali titik poligon P11 dan lakukan pembacaan benang pada titik tersebut (titik P11 sebagai titik awal atau bacaan muka) hal ini bertujuan sebagai titik temu pada saat pemindahan alat ke tempat kedua.

10. Lakukan pengukuran sampai titik jalur poligon terakhir (Pn).

11. Setelah semua data diperoleh kemudian lakukan perhitungan.

12. Data yang diperlukan adalah hanya bacaan benang (BA, BT, dan BB).

13. Hitungan yang dicari adalah beda tinggi dan elevasi.

Perencanaan Titik Poligon dan Titik Detail

Sebelum dilakukan pembidikan, terlebih dahulu kita harus membuat perencanaan letak titik poligon terbuka, dengan cara memasang kayu patok pada titik yang akan dijadikan lokasi pembidikan dengan jarak antara titik BM dengan patok sepanjang 25 m sebanyak 14 titik. Untuk perencanaan pembuatan titik detail dapat dibuat sketsa gambar lokasi dan usahakan urutan target searah jarum jam untuk mempermudah penggambaran sekaligus mempunyai ketelitian yang baik. Apabila jarak alat bidik dengan batas wilayah pembidikan terlalu jauh maka dapat dibuat titik bantu, sehingga dapat memudahkan pengukuran atau pembidikan target.

untitled

Gambar 1. Perencanaan Titik Poligon dan Titik Detail

Langkah Kerja Pengukuran Poligon

Pelaksanaan praktikum harus sesuai dengan langkah kerja yang telah diajarkan untuk mendapatkan hasil yang optimal Adapun langkah-langkah kerja sebagai berikut :

  1. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam praktikum.
  2. Mulai mendirikan alat sesuai dengan yang ditentukan yaitu di titik BM1
  3. Setelah alat didirikan kemudian melakukan centering karena kesalahan pada centering berakibat kesalahan data yang fatal. Cara-cara melakukan centering Alat theodolit :

–         Dirikan statif di atas titik dengan ketinggian sedada pembidik atau pengukur

–         Pasang theodolit di atas statif dan putar sekrup pengunci pada statif untuk mengunci theodolit

–         Angkat dan gerakkan 2 kaki statif sambil melihat titik patok melalui centering optik sampai benang centering mendekati titik patok

–         Apabila benang centering sudah mendekati titik patok, tancapkan kembali 2 kaki statif yang diangkat tadi

–         Atur nivo tabung dengan cara menaik-turunkan kaki statif

–         Setelah nivo tabung tepat ditengah, atur nivo kotak dengan memutar 3 sekrup secara secara searah dan bersamaan sampai gelembung udara nivo kotak tepat di tengah lingkaran

–         Kemudian, cek kembali apakah benang centering optik masih tepat berada di atas titik patok. Apabila tidak tepat lagi, longgarkan sekrup pengunci theodolit dan gerakkan theodolit secara perlahan sambil melihat pada centering optik sampai benang centering optik benar-benar tepat berada di atas titik patok. Bila sudah tepat kencangkan kembali sekrup pengunci theodolit

–         Theodolit siap dipakai untuk pembidikan.

  1. Kemudian menentukan kedudukan skala piringan Hz ( 0° 0′ 0″) dan mengunci sekrup nonius sampai dengan langkah ini alat siap untuk digunakan.
  2. Selanjutnya ukur jarak antara tempat didirikannya alat dengan titik bench mark (BM)
  3. Kemudian lakukan pembidikan ke BM untuk pengukuran sudut horisontal biasa dan putar searah jarum jam ketitik P1 dan lakukan pembidikan untuk mendapatkan sudut horisontal biasa serta benang atas, bawah, dan tengah.
  4. Pindah alat ketitik P2 dan pasang rambu ukur pada titik poligon depan (P1) dan belakang (BM1).
  5. Pada saat mendirikan alat pada titik poligon tidak perlu mencari arah utara karena pembacaan sudut dimulai dari titik poligon sebelumnya (belakang), sehingga yang diperlukan hanya mengarahkan sudut 0° 0′ 0″ terhadap titik poligon belakang. Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Buka pengunci nonius piringan horisontal bawah dan piringan horisontal atas
  2. Pada lensa pembacaan sudut atur hingga posisi sudut 0° 0′ 0″ kemudian kunci piringan horisontal atas
  3. Arahkan teropong pada rambu titik poligon belakang kemudian kunci nonius (piringan horisontal bawah)
  4. Setelah sudut awal diatur selanjutnya alat dapat digunakan untuk pengukuran.
  1. Membidik rambu pada titik belakang dan rambu pada titik depan, kemudian dibaca bacaan benang (BA, BT, BB) dan bacaan sudut (V dan H). Pembacaan sudut dilakukan dengan sudut biasa (V dan H). Langkah-langkah untuk membaca sudut biasa adalah sebagai berikut :

–         Bacaan sudut biasa

  • Bacaan sudut biasa adalah bacaan sudut pada awal pengukuran, dari posisi sudut 0° 0′ 0″ kemudian diputar searah jarum jam terhadap rambu titik poligon depan.
  • Ciri-ciri bahwa alat pada kondisi biasa dapat dilihat dari posisi lensa pembidik kasar, apabila lensa pembidik kasar berada di atas berarti konsisi alat adalah biasa
  • Pada kondisi alat biasa yang dibaca adalah sudut vertikal dan horisontal serta bacaan benang.

10. Setelah itu lakukan pengukuran situasi dari titik didirikannya alat (P1) searah jarum jam (dengan terlebih dahulu mengembalikan alat pada posisi semula).

11. Sebelum melakukan pengukuran situasi terlebih dahulu rencanakan letak titik situasi dan gambar sketsa lengkap dengan nama titik.

12. Kemudian pasang rambu pada titik-titik tertentu yang telah direncanakan kemudian bidik setiap rambu yang dipasang dan baca benang (BA, BT dan BB) serta sudut biasa (V dan H).

13. Setelah semua titik dibidik dan dicatat maka pengukuran situasi dianggap selesai kemudian alat dipindahkan pada titik poligon berikutnya dan melakukan pengukuran situasi dengan cara sama dengan sampai titik terakhir.

Data yang diperlukan adalah :

–         Tinggi alat.

–         Tinggi patok.

–         Bacaan benang (BA, BT dan BB).

–         Bacaan sudut biasa (V dan H).

Data yang dihitung :

–         Azimuth tiap titik poligon.

–         Jarak miring dan jarak datar.

Koordinat (X dan Y).

Teknik Penggambaran Pemetaan

Teknik Penggambaran Titik Poligon

Peralatan dan bahan yang di gunakan :

  1. Kertas milimeter blok.
  2. Kertas kalkir.
  3. Peralatan gambar.
  4. Busur derajat 360°.
  5. Mistar.
  6. Alat hitung.

Langkah kerja penggambaran :

  1. Menentukan skala penggambaran.
  2. Membuat grid batas pada sumbu X dan Y yang di mulai dari angka terkecil dari hasil hitungan koordinat (X dan Y) penulis menggambarkan grid.
  3. Menentukan koordinat awal (titik BM) yang telah ditentukan (277003;9611993).
  4. Jika titik BM telah ditentukan dan digambar selanjutnya adalah menggambarkan titik poligon, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode koordinat jadi titik poligon digambarkan sesuai titik koordinat dari perhitungan data di lapangan.
  5. Setelah semua titik poligon digambarkan selanjutnya adalah menggambar titik situasi.

Teknik Penggambaran Situasi

  1. Penggambaran titik situasi adalah dengan cara memasukkan nilai sudut horisontal yang telah di peroleh dari lapangan dan dengan jarak dari hasil perhitungan data ke tiap titik poligon yang telah digambar
  2. Pengggambaran titik situasi di mulai dari poligon 1, pusat busur derajat diletakkan dari poligon 1 kemudian angka nol derajat diletakkan pada titik poligon sebelumnya (BM), hal ini di lakukan karena pada saat pengukuran kondisi alat mengacu pada titik sebelumnya (di nol kan dari titik belakang). Selanjutnya tandai pada titik situasi sesuai dengan sudut yang diukur dan kemudian ditarik jarak yang telah di hitung dengan menggunakan skala yang diketahui
  3. Pada saat penggambaran titik situasi nilai elevasi dicantumkan tepat pada setiap titik situasi yang telah dihitung. Hal ini dilakukan untuk menggambaran titik peta.

Teknik Penggambaran Profil Memanjang dan Melintang

  1. Siapkan kertas gambar milimeter dan peralatan gambar.
  2. Tentukan skala gambar yang terdiri dari skala jarak (horisontal) dan skala elevasi (vertikal).
  3. Pada bagian bawah milimeter buat kolom yang berisi nama titik dan elevasi titik
  4. Tentukan elevasi terendah.
  5. Tarik garis vertikal (elevasi) dan beri angka elevasi dari nilai elevasi terendah.
  6. Tarik garis horisontal (sebagai jarak antara titik poligon) dan beri keterangan jarak dimulai dari titik BM.
  7. Tentukan titik BM kemudian tentukan titik poligon selanjutnya dengan jarak sesuai dengan data yang telah diskalakan.
  8. Plot nilai-nilai ketinggian (elevasi) disetiap titik sesuai dengan data di lapangan.
  9. Hubungkan semua hasil plotting dari titik BM sampai dengan titik poligon terakhir.

Desember 2017
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

twitter_ku

  • Tambah besar gadisku, tak terasa sudah 3,5 tahun menjadi pembawa kegembiraan dirumah kami, sehqt terus ya sayang. Jadilah anak yg pintar 7 months ago
  • Mes gemes gemeshhhh... 😡😡😠 8 months ago
  • Emak udah nggak sanggup lagi ngurus bawang, bisa pingsan nyium baunya 😷. Untung paksu baik hati, tiap hari mau aja ngurusin bawang 😍 8 months ago
  • Urusan per-bawang an semua di handle pak suami, dari ngupas sampai ngulek 😁😁 8 months ago
  • Udah hampir 8 tahun ngetwit, entah udah berapa kali ngetwit kangen nenek 😂 8 months ago

Kumpulan Arsip-ku